Gebrakan Satu Tahun Presiden Prabowo: Pangkas Ribuan BUMN Menjadi 250 Entitas demi Efisiensi Rp50 Triliun
- calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
- print Cetak

Wakil Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN, Aminuddin Makruf. (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
depokfaktual.com
JAKARTA – Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tengah menyiapkan transformasi fundamental terhadap struktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalam target ambisius, jumlah entitas BUMN yang saat ini mencapai lebih dari seribu akan dipangkas secara drastis menjadi hanya 250 entitas dalam kurun waktu satu tahun.
Wakil Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN, Aminuddin Makruf, menegaskan bahwa langkah ini merupakan misi besar untuk memberantas akar inefisiensi yang selama ini membebani keuangan negara. Fokus utama reformasi ini adalah penghapusan rantai transaksi berlapis yang memicu kerugian tidak langsung (indirect loss) dalam skala besar.
Aminuddin mengungkapkan bahwa birokrasi bisnis di internal BUMN sering kali menciptakan pemborosan yang tidak perlu. Ia menyoroti pola transaksi dari induk perusahaan ke anak hingga cucu perusahaan yang masing-masing mengambil margin keuntungan sendiri.
“Setiap lapisan dalam rantai transaksi tersebut tidak hanya menambah biaya operasional, tetapi juga menggerus potensi keuntungan secara signifikan,” ujar Aminuddin. Seperti dilansir Fin.co.id
Estimasi awal menunjukkan bahwa setiap BUMN berpotensi kehilangan hingga Rp50 miliar per tahun akibat struktur transaksi yang tidak efisien ini. Dengan pemangkasan birokrasi korporasi tersebut, pemerintah memproyeksikan peningkatan pendapatan luar biasa mencapai Rp50 triliun tanpa perlu adanya peningkatan aktivitas bisnis tambahan.
Konsolidasi masif ini diharapkan mampu mendongkrak realisasi laba BUMN dari angka Rp330 triliun menjadi Rp380 triliun.
Selain efisiensi transaksi, BP BUMN akan melakukan “bedah total” terhadap lini bisnis yang melenceng dari kompetensi inti (core business).
Fenomena BUMN yang merambah sektor perhotelan, rumah sakit, hingga manajemen aset dinilai sering kali gagal bersaing dengan sektor swasta yang lebih gesit. Aminuddin mencontohkan kasus ekspansi pabrik Semen Indonesia Group di Vietnam yang justru menjadi beban bagi konsolidasi perusahaan.
“Dari potensi laba yang seharusnya bisa mencapai Rp800 miliar, angka tersebut anjlok menjadi hanya Rp160 miliar akibat unit bisnis luar negeri yang merugi. Ini menunjukkan krusialnya fokus pada kompetensi inti,” ungkapnya.
Agenda perampingan ini bukan sekadar wacana, melainkan mandat langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya jelas: menciptakan perusahaan negara yang lebih ramping, tangguh, dan kompetitif di kancah global.
Dengan struktur yang lebih tajam, BUMN diharapkan tidak lagi menjadi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), melainkan bertransformasi menjadi lokomotif ekonomi yang memberikan kontribusi maksimal bagi kas negara.
Kebijakan ini sekaligus menjadi sinyal kuat bagi pasar bahwa era “bisnis suka-suka” di tubuh BUMN telah berakhir. Publik kini menanti realisasi gebrakan BP BUMN dalam satu tahun ke depan untuk membuktikan apakah penyusutan jumlah entitas ini mampu mengubah wajah ekonomi Indonesia secara permanen.
Analisis Ringkas (Highlight):
* Target: Dari 1.000+ entitas menjadi 250 entitas BUMN.
* Target Waktu: 1 Tahun.
* Proyeksi Efisiensi: Rp50 Triliun.
* Target Laba Konsolidasi: Naik dari Rp330 Triliun ke Rp380 Triliun.
* Strategi: Pemangkasan rantai margin antar anak perusahaan dan divestasi unit bisnis non-inti.
(Ats/net)
- Penulis: depokfaktual.com
